Equityworld – Dolar Amerika Serikat kian beranjak menguat pada Jumat (28/05) petang menjelang rilis data inflasi AS. Pound Inggris turun, tetapi masih di sekitar level tertinggi tiga bulan di tengah ekspektasi Bank of England (BOE) dapat menaikkan suku bunganya lebih awal dari yang direncanakan.
Indeks dolar AS terus bergerak menguat 0,21% di 90,150 pukul 13.18 WIB menurut data Investing.com.
Pasangan GBP/USD lanjut turun 0,19% di 1,4179. Adapun, rupiah kembali melemah 0,23% di 14.317,5 per dolar AS hingga pukul 13.24 WIB.
Pasangan USD/JPY naik tipis 0,08% ke 109,88. Dolar menembus kisaran ketatnya terhadap yen selama beberapa minggu terakhir untuk mencapai level tertinggi tujuh minggu. Pergerakan tersebut kemungkinan mencerminkan aksi penjualan yen karena perombakan MSCI terhadap indeks saham standar, di mana hampir 30 nama aset Jepang dicabut, menurut beberapa investor.
Yen juga terhambat juga oleh kekhawatiran investor tentang penundaan pemulihan ekonomi Jepang karena Jepang berupaya untuk memperpanjang status keadaan darurat yang mencakup Tokyo dan wilayah utama lainnya dalam tiga minggu hingga 20 Juni.
Pasangan AUD/USD melemah 0,26% di 0,7720 dan NZD/USD terus turun 0,62% ke 0,7246 pukul 13.21 WIB.
Pasangan USD/CNY turun 0,12% di 6,3746. Yuan China di luar negeri mencapai level tertinggi tiga tahun di 6,3679 dan investor memperkirakan People’s Bank of China (PBOC) akan menyambut baik pergerakan mata uang yang lebih kuat selama pemulihan ekonomi berkelanjutan dari COVID-19.
Pengambil kebijakan Bank of England Gertjan Vlieghe mengatakan bank sentral kemungkinan dapat menaikkan suku bunga hingga 2022, menambahkan bahwa langkah tersebut bisa datang lebih cepat dari yang diharapkan jika pemulihan ekonomi lebih cepat dari yang diharapkan.
Pound juga diperdagangkan pada 85,83 pence terhadap euro, mendekati level tertinggi lima minggu di 85,615 pence. Sementara itu, euro mencapai $1,2192, bertahan di bawah level tertinggi lima setengah bulan pada hari Selasa karena pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) menyampaikan komentar dovish menjelang pertemuan kebijakan pada 10 Juni.
Pukul 13.24 WIB, EUR/USD turun 0,15% di 1,2174.
Dolar menguat usai Presiden AS Joe Biden dilaporkan akan mengusulkan dana anggaran $6 triliun untuk tahun 2022 pada hari Jumat seiring negara itu melanjutkan pemulihan ekonominya dari COVID-19.
Juga memberi greenback dorongan adalah data ketenagakerjaan yang positif pada hari Kamis. Jumlah klaim pengangguran awal yang diajukan selama seminggu terakhir di AS turun menjadi 406.000, angka terendah dalam 14 bulan.
“Angka klaim awal yang baru saja kita lihat cukup bagus, jadi jelas ekspektasi sedang membangun untuk pembacaan yang kuat pada data gaji bulanan yang akan dirilis minggu depan,” ahli strategi mata uang senior Daiwa Securities, Yukio Ishizuki mengatakan kepada Reuters.
Investor menunggu Core Personal Consumption Expenditure Price Index untuk bulan April, yang akan dirilis hari ini, di tengah kekhawatiran bahwa angka yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memaksa Federal Reserve AS untuk mengetatkan kebijakan moneternya.
Meskipun pembacaan diharapkan lebih besar dari target Fed 2%, inflasi inti diperkirakan akan melambat bertahap pada tahun 2021, memungkinkan The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter dovish yang ada saat ini tidak berubah untuk sekarang.
Dari cryptocurrency, bitcoin bergerak turun 3,84% ke $36.779,4 pukul 13.27 WIB.
Sumber : Investing
Equityworld Futures