
Pada Jumat, 12 Juli 2024, Yen mengalami penurunan dalam perdagangan yang berombak terhadap Dolar AS. Penurunan ini terjadi setelah spekulasi muncul mengenai Bank Sentral Jepang (BoJ) melakukan intervensi untuk mendukung mata uang tersebut. Namun, intervensi tersebut hanya dianggap memiliki efek jangka pendek.
Kecenderungan penurunan Yen tersebut terjadi setelah USD/JPY mengalami kenaikan sebesar 0,4% menjadi 159,45 pada hari Jumat, setelah sebelumnya mengalami penurunan sebesar 2,6% di sesi sebelumnya. Beberapa pelaku pasar mengungkapkan bahwa BoJ telah meminta mereka untuk menetapkan harga indikatif terhadap Euro, yang memberikan kesan bahwa intervensi telah dilakukan.
Namun, para ahli seperti Alan Lau, ahli strategi FX di Malayan Banking Berhad, menilai bahwa intervensi hanya memiliki efek sementara dan secara fundamental tidak menguntungkan bagi Yen. Situasi fundamental Yen diprediksi tetap menarik meskipun adanya intervensi.
Mesato Kanda, pejabat mata uang Jepang, menanggapi laporan surat kabar Mainichi yang menyatakan adanya intervensi pada hari Kamis dengan sikap yang merendahkan. Sementara itu, Indeks Bloomberg Dollar Spot stabil dengan kenaikan tipis sebesar 0,04% setelah sebelumnya mengalami penurunan sebagai respons data inflasi AS yang menurun pada bulan Juni.
Pasangan mata uang lainnya seperti EUR/USD mengalami sedikit perubahan di level 1,0865, sementara AUD/USD mengalami kenaikan sebesar 0,2% menjadi 0,6773 sebelum akhirnya terpangkas.
Data dan analisis ini menjadi penting bagi pelaku pasar untuk memahami dinamika pergerakan mata uang dan intervensi yang dilakukan oleh pihak berwenang. Saat ini, situasi pasar masih dipengaruhi oleh intervensi yang dianggap memiliki efek sementara terhadap Yen, namun fundamental Yen dinilai tetap menarik bagi investor.
Dengan adanya informasi terkini seperti ini, diharapkan para pelaku pasar dapat mengambil keputusan yang tepat dan strategis dalam bertransaksi mata uang. Kesadaran akan kondisi pasar dan perubahan yang terjadi merupakan kunci untuk meraih keuntungan dan mengelola risiko investasi dengan baik.
Sumber: Bloomberg, ewfpro