Equityworld Futures – Minyak Menuju Penurunan Mingguan: Kekhawatiran Permintaan Imbangi Risiko Timur Tengah

Pasar minyak global saat ini menghadapi situasi yang kompleks dan penuh tantangan. Meskipun adanya risiko geopolitik yang meningkat di Timur Tengah, harga minyak mentah menunjukkan tanda-tanda penurunan mingguan. Artikel ini akan membahas faktor-faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga minyak, termasuk kekhawatiran permintaan global dan dinamika di kawasan Timur Tengah.

Kondisi Pasar Minyak

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan mingguan di tengah kekhawatiran tentang melemahnya permintaan global. Meskipun ada ketegangan yang meningkat di Timur Tengah, yang biasanya mendorong harga naik karena potensi gangguan pasokan, sentimen pasar lebih didominasi oleh ketakutan akan penurunan permintaan. Penurunan ini terjadi di tengah gejolak ekonomi global dan ketidakpastian terkait kebijakan moneter di beberapa negara besar, terutama Amerika Serikat dan China.

Faktor-Faktor Permintaan

Salah satu faktor utama yang menekan harga minyak adalah kekhawatiran tentang permintaan global. Data ekonomi yang lemah dari beberapa negara konsumen utama, termasuk China dan Eropa, menunjukkan adanya perlambatan dalam aktivitas industri dan konsumsi. Di China, data manufaktur yang menunjukkan pelemahan menjadi indikator bahwa permintaan energi dari sektor ini akan berkurang. Selain itu, situasi ekonomi di Eropa juga tidak membantu, dengan beberapa negara menghadapi resesi dan masalah inflasi yang tinggi.

Selain itu, kebijakan moneter yang ketat di Amerika Serikat juga menjadi faktor yang menekan permintaan. Kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS telah meningkatkan biaya pinjaman dan memperlambat investasi serta konsumsi. Hal ini berdampak negatif pada permintaan minyak, karena sektor-sektor seperti transportasi dan industri menjadi lebih berhati-hati dalam penggunaan energi.

Risiko Geopolitik di Timur Tengah

Sementara itu, di Timur Tengah, ketegangan terus meningkat, terutama setelah insiden di beberapa wilayah yang kaya akan minyak. Konflik dan ketidakstabilan politik di kawasan ini sering kali menjadi faktor yang mempengaruhi pasokan minyak global. Namun, meskipun risiko ini ada, dampaknya pada harga minyak saat ini tampaknya terbatas. Ini mungkin karena pasar sudah cukup jenuh dengan pasokan dan adanya ketidakpastian yang lebih besar tentang permintaan global.

Konflik di Timur Tengah sering kali memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan, yang bisa menyebabkan lonjakan harga. Namun, dalam situasi saat ini, kekhawatiran akan penurunan permintaan lebih mendominasi sentimen pasar. Investor tampaknya lebih fokus pada data ekonomi yang menunjukkan penurunan aktivitas ekonomi daripada potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Prospek Masa Depan

Melihat ke depan, pasar minyak tampaknya akan terus dipengaruhi oleh dinamika antara permintaan dan risiko geopolitik. Ketidakpastian ekonomi global, kebijakan moneter, dan perkembangan di Timur Tengah akan tetap menjadi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi harga. Sementara itu, para analis terus memantau data ekonomi dan geopolitik untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang arah pergerakan harga minyak.

Dalam jangka pendek, penurunan harga minyak mungkin akan berlanjut jika data ekonomi terus menunjukkan pelemahan. Namun, jika ada perkembangan signifikan di Timur Tengah yang mengancam pasokan minyak, kita bisa melihat lonjakan harga mendadak. Oleh karena itu, pelaku pasar dan investor harus tetap waspada dan siap menghadapi volatilitas yang mungkin terjadi.

Kesimpulan

Pasar minyak saat ini berada dalam situasi yang tidak pasti, dengan harga yang cenderung menurun meskipun ada risiko geopolitik di Timur Tengah. Faktor utama yang mempengaruhi adalah kekhawatiran tentang penurunan permintaan global, yang didorong oleh data ekonomi yang lemah dan kebijakan moneter yang ketat di beberapa negara besar. Sementara itu, ketegangan di Timur Tengah terus menambah lapisan ketidakpastian, meskipun dampaknya pada harga minyak saat ini tampaknya terbatas. Dalam situasi seperti ini, penting bagi pelaku pasar untuk terus memantau perkembangan global dan siap menghadapi potensi perubahan yang cepat di pasar energi.

Sumber: ewfpro

Demo ewf

Demo Equityworld

Equityworld Futures – IHSG Selasa Dibuka Melemah 4,97 Poin

Jakarta, (Antara) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 30 Juli 2024, dibuka melemah sebesar 4,97 poin atau 0,07% menjadi 6.891,85. Sementara itu, indeks LQ45 yang mencerminkan 45 saham unggulan turut mengalami penurunan sebesar 1,22 poin atau 0,13% ke posisi 965,32.

Pelemahan IHSG pada perdagangan awal pekan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Di antaranya adalah kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan suku bunga The Federal Reserve Amerika Serikat yang dapat mempengaruhi arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Selain itu, data ekonomi yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global juga turut membebani sentimen pasar.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati perkembangan politik dan kebijakan ekonomi pemerintah. Meskipun kondisi makroekonomi Indonesia cenderung stabil, ketidakpastian kebijakan serta tekanan inflasi menjadi perhatian utama para investor.

Secara sektoral, beberapa sektor utama seperti keuangan dan properti menunjukkan kinerja yang lemah pada awal perdagangan. Saham-saham perbankan, yang biasanya menjadi penopang utama IHSG, mengalami tekanan akibat sentimen global yang negatif. Di sisi lain, sektor komoditas mencatatkan kinerja yang relatif stabil seiring dengan pergerakan harga minyak dan logam yang cenderung positif.

Para analis memperkirakan IHSG masih akan bergerak dalam kisaran terbatas selama beberapa waktu ke depan, dengan kecenderungan melemah jika sentimen negatif dari pasar global terus berlanjut. Mereka juga menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dan selektif dalam memilih saham, serta mempertimbangkan kondisi fundamental emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

Sumber: AntaraNews, Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Equityworld Futures – Harga Minyak Naik Tipis Karena Data PDB AS

Harga minyak mentah mengalami kenaikan tipis di tengah optimisme yang berasal dari data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat. Penumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari yang diantisipasi menambah ekspektasi akan peningkatan permintaan energi di pasar global. Dalam laporan terbaru, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September tercatat naik 7 sen menjadi $82,44 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami peningkatan sebesar 4 sen, mencapai harga $78,32 per barel.

Pertumbuhan PDB AS yang Menggembirakan

Kinerja Ekonomi yang Positif

Departemen Perdagangan AS melaporkan pertumbuhan tahunan PDB sebesar 2,8% pada kuartal kedua, melampaui estimasi para ekonom yang hanya memperkirakan pertumbuhan 2,0%. Faktor utama pendorong pertumbuhan ini adalah peningkatan yang signifikan dalam belanja konsumen dan aktivitas investasi bisnis. Tanda-tanda pemulihan ini sangat penting, mengingat AS merupakan konsumen energi terbesar di dunia, sehingga setiap pertumbuhan ekonomi akan berdampak pada permintaan minyak.

Tantangan Inflasi dan Suku Bunga

Walaupun terjadi pertumbuhan yang kuat, tekanan inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan, memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve bisa mengambil langkah untuk menurunkan suku bunga di bulan September. Penurunan suku bunga umumnya meningkatkan aktivitas ekonomi dan, dalam konteks ini, bisa berkontribusi pada meningkatnya permintaan minyak mentah.

Kekhawatiran Ekonomi di Asia

Situasi di RRT dan Jepang

Meskipun ada harapan dari pertumbuhan ekonomi AS, berita kurang baik datang dari negara-negara besar Asia. Jepang mengalami lonjakan harga konsumen inti sebesar 2,2% pada bulan Juli dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan ini memicu ekspektasi pasar akan kemungkinan kenaikan suku bunga, meskipun indeks yang tidak termasuk biaya energi menunjukkan pertumbuhan yang paling lambat dalam hampir dua tahun. Ini mencerminkan realitas bahwa konsumsi domestik masih tergolong lemah, yang dapat menghambat permintaan akan minyak.

Di sisi lain, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang dikenal sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, melakukan intervensi pasar yang mengejutkan dengan menawarkan pinjaman dengan suku bunga rendah. Langkah ini adalah bagian dari strategi pemerintah untuk memberikan stimulus yang lebih kuat guna mendukung pertumbuhan ekonominya yang stagnan. Ketidakpastian ini dapat menghambat kenaikan harga minyak, karena RRT merupakan pasar penting bagi permintaan minyak global.

Implikasi Terhadap Pasar Minyak

Dinamika Permintaan dan Penawaran

Kenaikan tipis harga minyak mentah adalah gambaran dari aksi saling berhadapan antara pertumbuhan positif di AS dan tantangan yang dihadapi oleh ekonomi Asia. Jika data ekonomi AS terus menunjukkan tren positif, permintaan minyak dari negara tersebut kemungkinan besar akan meningkat. Namun, apabila kekhawatiran akan pertumbuhan di Asia berlanjut, hal ini bisa menekan harga minyak yang lebih tinggi.

Perhatikan Perkembangan Selanjutnya

Investor dan pelaku pasar harus terus memantau situasi ini dengan hati-hati. Data ekonomi berikutnya, baik dari AS maupun negara-negara Asia, akan sangat menentukan arah harga minyak ke depan. Pengumuman tentang kebijakan moneter dan langkah-langkah stimulus di kawasan Asia akan memberikan sinyal penting mengenai potensi pemulihan ekonomi dan dampaknya terhadap permintaan energi.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, meskipun harga minyak mengalami kenaikan tipis yang didorong oleh data pertumbuhan PDB AS yang positif, kekhawatiran mengenai ekonomi Asia tetap menjadi faktor penentu yang signifikan. Keberlanjutan tren positif ini akan sangat bergantung pada bagaimana kondisi ekonomi global berkembang dalam waktu dekat. Maka dari itu, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap perkembangan terbaru yang dapat memengaruhi dinamika permintaan dan penawaran minyak mentah secara global.

Sumber: Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Equityworld Futures – Demokrat AS Ajukan RUU untuk Menghukum Perusahaan Minyak atas Kolusi OPEC

Para anggota Partai Demokrat di Amerika Serikat telah mengajukan RUU yang ditujukan untuk menindak perusahaan-perusahaan energi atas kemungkinan kolusi dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) guna memanipulasi harga minyak. RUU yang diusulkan oleh Senator Edward Markey dan Perwakilan Nanette Barragan bertujuan untuk menyatakan pertanggungjawaban perusahaan yang terlibat dalam praktik anti-persaingan menurut Komisi Perdagangan Federal (FTC).

Tindakan Tegas Terhadap Perusahaan Energi

Sesuai dengan ketentuan RUU yang diusulkan, perusahaan energi yang disebut bersalah melakukan kolusi dengan OPEC oleh FTC akan dilarang untuk mendapatkan sewa minyak dan gas baru di tanah serta perairan federal. Langkah ini diambil setelah FTC mengeluarkan tuduhan terhadap Scott Sheffield, CEO Pioneer Natural Resources, yang diduga bertukar pesan dengan pejabat OPEC untuk menaikkan harga minyak secara artifisial.

Respons dari Perusahaan Minyak Besar

Exxon Mobil, yang terlibat dalam kasus ini, telah bekerja sama dengan FTC dengan memberikan lebih dari 1,1 juta dokumen sebagai bukti bahwa regulator tidak meragukan praktek bisnis perusahaan tersebut. RUU ini diakui sebagai langkah untuk menegakkan kedisiplinan di sektor minyak dan gas di tengah perdebatan tentang penetapan harga.

Kemungkinan Kelulusan RUU

Meskipun RUU tersebut mendapat dukungan dari beberapa anggota Partai Demokrat yang berpengaruh, termasuk Alexandria Ocasio-Cortez dan Raul Grijalva, prospek kelulusan RUU ini tampaknya tipis, mengingat mayoritas Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat dan mayoritas sempit Partai Demokrat di Senat.

RUU ini mencerminkan tekanan yang senantiasa dilakukan oleh anggota Kongres untuk memantau praktik penetapan harga yang dilakukan perusahaan-perusahaan minyak. Meskipun demikian, perdebatan dan tindak lanjut terhadap RUU ini masih memerlukan diskusi lebih lanjut di tingkat legislatif AS.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Senator Markey menegaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk memberikan konsekuensi yang serius kepada perusahaan energi besar ketika mereka melakukan tindakan yang merugikan masyarakat. Dengan demikian, RUU ini menunjukkan upaya politik yang fokus pada keseimbangan antara kepentingan perusahaan dan perlindungan konsumen.

Artikel ini telah diterjemahkan dengan bantuan kecerdasan buatan untuk memberikan informasi yang tepat dan akurat kepada para pembaca.

Sumber: Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Equityworld Futures – Harga Emas Naik Hari Ini, Sekarang Jadi Rp 1.406.000 per Gram

Pagi ini, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik Rp 2.000 menjadi Rp 1.406.000 per gram. Sebelumnya, harga emas batangan berada di posisi Rp 1.404.000 per gram pada Selasa (23/7/2024).

Transaksi dan Pajak

Transaksi harga jual emas dikenakan potongan pajak sesuai dengan PMK No. 34/PMK.10/2017. Penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp 10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non-NPWP. PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari nilai buyback. Pajak beli emas juga dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP.

Harga Pecahan Emas Batangan

Harga pecahan emas batangan yang tercatat di Logam Mulia Antam pada Rabu (24/7/2024):

  • 0,5 gram: Rp 753.000
  • 1 gram: Rp 1.406.000
  • 2 gram: Rp 2.752.000
  • 3 gram: Rp 4.103.000
  • 5 gram: Rp 6.805.000
  • 10 gram: Rp 13.555.000
  • 25 gram: Rp 33.762.000
  • 50 gram: Rp 67.445.000
  • 100 gram: Rp 134.812.000
  • 250 gram: Rp 336.765.000
  • 500 gram: Rp 673.320.000
  • 1.000 gram: Rp 1.346.600.000

Ringkasan

Dengan harga emas naik menjadi Rp 1.406.000 per gram, pasar emas saat ini patut diawasi dengan cermat untuk keputusan investasi yang tepat. Jangan lupakan aturan pajak yang telah ditetapkan untuk transaksi pembelian dan penjualan emas batangan.

Sumber: Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Equityworld Futures – Harga Minyak Naik karena China Pangkas Suku Bunga; Gencatan Senjata Gaza Jadi Fokus

Harga Minyak Naik di Asia

Harga minyak naik di perdagangan Asia pada hari Senin, memulihkan beberapa ukuran kerugian baru-baru ini. Hal ini disebabkan oleh harapan membaiknya kondisi ekonomi di China setelah negara tersebut menurunkan biaya pinjaman secara tak terduga.

Brent oil futures untuk pengiriman September naik 0,4% menjadi $82,92 per barel, sedangkan West Texas Intermediate crude futures naik 0,4% menjadi $81,87 per barel.

China Memangkas Suku Bunga

Negara importir minyak terbesar, China, memangkas suku bunga acuan suku bunga utama pinjaman untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang melambat. Langkah ini diambil setelah data menunjukkan pertumbuhan ekonomi China kurang dari yang diharapkan pada kuartal kedua.

Beijing berkomitmen untuk memberikan lebih banyak stimulus guna menopang pertumbuhan ekonomi, dengan pemotongan suku bunga sebagai bagian dari langkah-langkah tersebut.

Minyak Turun Akibat Gencatan Senjata Israel-Hamas

Harga minyak turun lebih dari 3% minggu lalu karena pembicaraan gencatan senjata Israel-Hamas mengalami perkembangan. Para trader berharap gangguan pasokan minyak di Timur Tengah akan berkurang jika gencatan senjata tercapai.

AS menyatakan bahwa Israel dan Hamas hampir mencapai kesepakatan yang dapat menciptakan stabilitas di Gaza, serta mengurangi ketegangan di Timur Tengah.

Biden Menarik Diri, Fokus pada Penurunan Suku Bunga

Keputusan Presiden Joe Biden untuk tidak mencalonkan diri kembali memengaruhi pasar. Biden mendukung Wakil Presiden Kamala Harris dalam pemilihan presiden berikutnya.

Data jajak pendapat menunjukkan bahwa mantan Presiden Donald Trump mendapat dukungan yang kuat dari publik. Trump berjanji untuk meningkatkan produksi minyak AS jika terpilih kembali.

Fokus juga tertuju pada rencana penurunan suku bunga di AS, terutama setelah data inflasi yang lemah dan sinyal dovish dari Federal Reserve.

Kesimpulan

Dalam situasi di mana China memangkas suku bunga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan prospek gencatan senjata di Timur Tengah, harga minyak dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pemantauan terus dilakukan untuk melihat perkembangan selanjutnya dan dampaknya terhadap pasar minyak global.

Dengan demikian, situasi geopolitik dan kebijakan ekonomi global menjadi penentu utama dalam pergerakan harga minyak.

Sumber: Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Equityworld Futures – Rebutan Transfer Minyak, China dan AS Diam-diam Perang Dingin di Irak

Pemandangan kilang minyak Baiji 180 kilometer sebelah utara Baghdad.

Permasalahan Transfer Minyak Antara China dan AS di Irak

Irak telah memutuskan untuk menghentikan semua transaksi keuangan dalam yuan China yang diikuti oleh arahan dari Federal Reserve AS. China mendorong yuan untuk transfer perdagangan dengan Irak, namun keputusan ini malah direspons dengan tindakan dari Federal Reserve AS yang membatalkan transaksi tersebut. Adanya kekhawatiran mengenai potensi manipulasi dalam transfer minyak dan gas telah menjadi sorotan utama, menimbulkan tuduhan ketidakberesan dan masalah keuangan.

Pengaruh Federal Reserve AS terhadap Bank Sentral Irak

Pendapatan minyak Irak disimpan di Federal Reserve AS dan kemudian ditransfer oleh FBI ke Bank Sentral Irak setelah melewati proses tertentu. Akibatnya, Federal Reserve AS memiliki kekuatan pengambilan keputusan bersama dengan pemerintah Irak dan Bank Sentral Irak. Sejak tahun 2023, Bank Sentral Irak telah mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan mata uang lokal dan ekonomi negara. Namun, keputusan-keputusan Bank Sentral Irak seringkali dipengaruhi oleh Federal Reserve AS.

Upaya China dalam Mendorong Penggunaan Yuan dalam Perdagangan Minyak

China telah berupaya mendorong penggunaan yuan dalam transaksi perdagangan minyak dengan negara-negara berkembang, termasuk Irak. Melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan, China memberikan pinjaman miliaran dolar kepada negara-negara di Asia dan Afrika untuk membangun infrastruktur dan pelabuhan. Hal ini membuat China merasa lebih mudah untuk mendorong penggunaan yuan dalam transaksi perdagangan dan memperkuat mata uangnya serta perekonomian secara keseluruhan.

Dampak Perang Dingin di Irak

Ketegangan antara China dan AS terkait transfer minyak di Irak telah menciptakan sebuah perang dingin yang berdampak pada keputusan-keputusan ekonomi di negara tersebut. Kedua negara berusaha mempengaruhi Irak dalam hal transaksi keuangan yang dilakukan, menciptakan ketidakpastian dalam perdagangan minyak.

Kesimpulan

Permasalahan rebutan transfer minyak antara China dan AS di Irak mencerminkan dinamika geopolitik global serta upaya masing-masing negara untuk memperkuat pengaruh dan kepentingan ekonominya. Irak sebagai negara yang menjadi objek perang dingin antara China dan AS harus mengambil keputusan yang tepat demi kepentingan ekonomi dan stabilitasnya.

Sumber: Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Equityworld Futures – Harga Minyak Naik Tipis Setelah Penurunan Stok Minyak Mentah AS

Pada tanggal 18 Juli 2024, harga minyak mengalami kenaikan tipis setelah penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan. Minyak mentah Brent naik 13 sen menjadi $85,21 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 31 sen menjadi $83,16 per barel.

Kenaikan Harga Pasca Data Penurunan Stok Minyak AS

Kenaikan harga tersebut menyusul peningkatan harga minyak Brent sebesar 1,6% dan minyak WTI sebesar 2,6% pada hari Rabu. Data dari Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 4,9 juta barel, jauh lebih tinggi dari perkiraan 30.000 barel oleh para analis.

Sentimen Pasar dan Pemotongan Suku Bunga

Dari sisi permintaan, sentimen pasar diperkuat oleh prospek penurunan suku bunga di AS dan Eropa. Pernyataan dari para pejabat Federal Reserve mengindikasikan potensi penurunan suku bunga pada bulan September.

Perkembangan di Eropa dan RRT

Di Eropa, Bank Sentral Eropa diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya pada pertemuan berikutnya. Para pemimpin di RRT juga tengah mengadakan pertemuan penting yang berpotensi mempengaruhi pasar minyak.

Kontribusi Pelemahan Dollar AS

Pelemahan dolar AS untuk hari ketiga berturut-turut turut berkontribusi pada kenaikan harga minyak, seiring dengan harga yang lebih terjangkau bagi investor menggunakan mata uang lain.

Dengan begitu, harga minyak naik tipis setelah penurunan stok minyak mentah AS. Selain itu, faktor-faktor seperti suku bunga, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan dari RRT juga menjadi sorotan pasar saat ini.

Artikel ini bersumber dari Reuters dan diterjemahkan dengan menggunakan kecerdasan buatan untuk informasi yang lebih lengkap serta akurat.

Sumber : Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Equityworld Futures – Harga Minyak Tetap Stabil di Tengah Ketegangan Permintaan dan Pasokan

Pada awal perdagangan Asia hari ini, harga minyak menunjukkan sedikit perubahan, dengan harga minyak mentah Brent mendekati level terendah dalam satu bulan yang dicapai pada hari sebelumnya. Stabilitas harga terjadi karena kekhawatiran mengenai melambatnya pertumbuhan permintaan di RRT diimbangi dengan indikasi menyusutnya persediaan minyak AS.

Tren Harga Minyak

Minyak mentah berjangka Brent mengalami sedikit penurunan sebesar 11 sen, menetap di $83,62 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS juga mengalami penurunan sebesar 11 sen menjadi $80,65 per barel. Kedua patokan ini telah berada dalam lintasan menurun selama tiga sesi terakhir, dengan Brent berjangka merosot ke level terendah sejak 17 Juni di $83,30 pada hari Selasa.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Minyak

Analis pasar mengamati dengan cermat China, importir minyak terbesar di dunia, di mana ekspansi ekonomi melambat menjadi 4,7% pada kuartal kedua, laju paling lamban sejak kuartal pertama 2023. Perlambatan ini memberikan tekanan ke bawah pada permintaan minyak dan sentimen pasar. Menambah tekanan pada harga minyak adalah penguatan dolar AS, yang telah meningkat selama tiga sesi berturut-turut, membuat komoditas ini menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Analis Daniel Hynes dari ANZ Bank menyoroti dampak penguatan dolar terhadap harga minyak.

Potensi Pengetatan Suplai

Namun, tanda-tanda pengetatan suplai di AS memberikan dukungan pada pasar. Menurut data dari American Petroleum Institute, persediaan minyak mentah AS turun 4,4 juta barel untuk pekan yang berakhir pada 12 Juli. Angka ini jauh melebihi penurunan 33.000 barel yang telah diantisipasi oleh para analis. Laporan penyimpanan resmi dari Administrasi Informasi Energi AS diperkirakan akan dirilis hari ini.

Dampak Geopolitik

Di tengah dinamika pasar ini, risiko geopolitik juga berperan dalam membatasi penurunan harga minyak lebih lanjut. Sebuah kapal tanker minyak berbendera Liberia saat ini sedang mengevaluasi kerusakan dan kemungkinan tumpahan minyak setelah diserang oleh kelompok Houthi Yaman di Laut Merah.

Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi harga minyak saat ini, pasar terus dinamis dan perlu diawasi dengan cermat untuk mengantisipasi potensi perubahan harga di masa depan.

Sumber: Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Equityworld Futures – Emas Bisa Melonjak ke $3.000 karena Aliran Dana Bisa Berkembang Banyak, Menurut Analis Citi

Potensi Melonjaknya Harga Emas

Menurut laporan terbaru dari analis Citi, harga emas bisa mencapai $3.000 per ounce karena adanya potensi ekspansi arus keuangan yang signifikan. Berbagai faktor, seperti melemahnya pasar tenaga kerja AS, tren disinflasi yang luas, dan CPI bulan Juni yang lemah, memperkuat argumen untuk perubahan arah dovish dari Federal Reserve pada pertemuan FOMC bulan Juli mendatang.

Implikasi Terhadap Logam Lainnya

Analisis Citi juga menyoroti dampak pemotongan Fed sebelumnya terhadap harga logam mulia. Diperkirakan emas dan perak akan bullish hingga akhir tahun, dengan efek positif yang juga diharapkan untuk logam dasar seperti copper.

Aliran Dana Masuk ke ETF Emas

Pentingnya pemantauan arus masuk ke dalam ETF emas batangan tidak bisa diabaikan. Laporan menunjukkan bahwa bulan Juni merupakan bulan pertama dalam 12 bulan terakhir di mana tercatat arus masuk bersih, dengan bulan Juli yang berlanjut mengalami laju bulanan positif sebesar +30t.

Potensi Pertumbuhan Harga Emas

Bank Citi mengindikasikan bahwa rasio margin 20-1 dan keberadaan “dry powder” di pasar memperkuat potensi pertumbuhan harga emas. Meskipun super-contango dalam kurva mungkin telah menekan pembelian posisi long untuk paruh pertama tahun 2024, diharapkan harga yang lebih tinggi dan lingkungan volatilitas yang lebih tinggi akan mendorong penambahan posisi baru.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, prospek harga emas tampak positif menuju akhir tahun. Analisis Citi menargetkan harga emas sebesar $2.800 hingga $3.000 per ounce dan perak sebesar $38 hingga $40 per ounce pada pertengahan hingga akhir tahun 2025. Dengan arus dana yang berkembang pesat, para investor dan pelaku pasar diharapkan dapat memanfaatkan potensi pertumbuhan yang signifikan dalam pasar logam mulia.

Dengan demikian, potensi melonjaknya harga emas hingga mencapai $3.000 per ounce menjadi peluang yang menarik bagi para investor yang ingin mengoptimalkan portofolio investasi mereka.

Sumber: Investing

Demo ewf

Demo Equityworld

Design a site like this with WordPress.com
Get started